Opini
Ekonomi Indonesia di Tengah Konflik Global
Meski konflik global meningkat, ekonomi Indonesia masih relatif kuat dengan pertumbuhan sekitar 5%, lebih tinggi dari rata-rata global dan ASEAN.
Betul bahwa, rupiah mengalami tekanan tetapi saat ini rupiah sudah relatif lebih stabil. Meskipun tidak mengalami apresiasi yang signifikan. Hal terpenting di dalam kacamata ekonomi bukan hanya sekedar apresiasi atau depresiasi nilai tukar, yang paling penting adalah stabilitas nilai tukar.
Prespektif Fiskal
Selanjutnya kita melihat perekonomian dari sisi fiskal. Ini menjadi sangat realistis, karena hampir semua permasalahan ekonomi dari hulu sampai hilir tergantung pada kesehatan fiskal. Isu yang mengemuka belakangan ini adalah menurunnya transfer kepada daerah. Besarnya konon hingga 30 %. Secara opresional tentu sangat berat dan menyiksa.
Jika dijejak dampaknya tentu banyak sekali. Mulai dari berkurangnya realisasi program kerja kepala daerah dan potensi turunnya biaya pembangunan infrastruktur dan perawatannya. Banyaknya Kepala Daerah yang merasa berat adalah sangat logis.
Akan tetapi jika kita kembalipada laporan World Economy Forum 2025 sebagaimana yang disebutkan diatas maka, shifting budget ke pusat adalah bagian dari strategi memperkuat bantalan ketika terjadi konflik bersenjata. Pertanyaan yang cukup menggoda adalah mungkinkah pemerintah merelakan relokasi anggaran MBG jika resiko global pertama terjadi di Indonesia?.
Saya dan kita tidak tahu jawabannya. Tetapi, mungkin saja, berapa probabilitasnya saya dan kita juga tidak tahu. Artinya dalam perspektif optimistis maka ada bantalan fiskal kalau terjadi sesuatu yang luar biasa, sudah tersedia. Anggaplah sentralisasi fiskal itu untuk menyiapkan emergency exit jika terjadi hal yang luar biasa.
Selanjutnya, bagaimana dengan cadangan bahan bakar akibat konflik bersenjata. Betul bahwa, akibat konflik bersenjata Amerika & Israel vs Iran harga minyak dunia meningkat. Bahkan menjelang lebaran tempo hari beredar informasi cadangan BBM Kita cukup untuk 20 hari.
Saat ini sudah H + 6 keberadaan BBM sejauh ini tersedia dan aman. Hal yang harus kita ingat bahwa, selain kita mengimpor kita juga memproduksi minyak dalam negeri. Artinya kenaikan harga minyak tidak sepenuhnya akan menekan ekonomi karena market BBM kita terbagi menjadi dua segmen, yaitu subsidi dan non subsidi.
Oleh karena segmentasi pasar terbagi menjadi dua anggaplah bahwa, resiko cadangan dan harga BBM berada pada posisi tinggal 50 % . Itu pun dalam perspektif yang sangat pesimistis, karena yang 50 % subsidi tadi juga tidak sepenuhnya impor. Bukankah selain impor kita juga produksi minyak dalam negeri.
Berdasarkan penjelasan potensi pertumbuhan, stabilitas ekonomi baik inflasi dan nilai tukar secara makro ekonomi Indonesia masih on the track. Demikian juga jika jika perhatikan posisi fiskal dan cadangan BBM. Akhirnya, berfikir pesimis itu, tidak dilarang. Akan tetapi pilihan optimistis itu lebih solutif dan menjanjikan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/EKONOMI-INDONESIA-Dosen-Fakultas-Ekonomi-UBT-Dr-Margiyono.jpg)