Opini
Menahan Hasrat jika Tidak Akurat
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar ritual penyembelihan kurban.Melainkan, sebuah manifestasi tertinggi dari ketakwaan dan ketaatan.
Oleh: Fathu Rizqil Mufid
Ketua PWI Bulungan
TRIBUNKALTARA.COM - Momentum Hari Raya Idul Adha selalu membawa ingatan kita pada sebuah narasi agung tentang ketundukan mutlak.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban.
Melainkan, sebuah manifestasi tertinggi dari ketakwaan, ketaatan, dan keimanan kepada Sang Pencipta.
Kurban yang secara harfiah berasal dari kata ‘qaruba’ (mendekatkan diri), adalah simbol kerelaan manusia untuk memangkas ego dan melepaskan apa yang paling dicintainya demi meraih rida Allah SWT.
Namun, jika kita bawa hakikat kurban ini ke dalam realitas kontemporer, maknanya meluas melampaui batas fisik.
Di era digital saat ini, medan “penyembelihan” yang paling nyata bukan lagi sekadar di atas tanah lapang dengan sebilah pisau.
Melainkan di dalam diri kita sendiri, yaitu menyembelih syahwat dan hasrat jempol untuk menyebarkan informasi secara terburu-buru.
Baca juga: Penampakan Bruno, Sapi Kurban Jenis Limosin Bantuan Presiden Prabowo di Malinau
Kurban Informasi: Menahan Syahwat “Menjadi yang Pertama”
Dalam ruang digital yang bergerak secepat kedipan mata, publik kerap didera penyakit sosial baru.
Yaitu syahwat untuk selalu menjadi yang pertama tahu dan yang pertama membagikan (sharing) informasi. Keinginan tampil eksklusif ini seringkali menenggelamkan nalar kritis.
Di sinilah esensi kurban harus dikontekstualisasikan.
Menahan diri dari membagikan informasi yang belum pasti kebenarannya adalah bentuk ketakwaan digital.
Bahkan dalam Islam, ditegaskan tentang Tabayyun (Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 6).
Publik harus mampu mengurbankan ego dan hasrat provokatifnya demi kemaslahatan bersama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Fathu-Rizqil-Mufid270526.jpg)