Breaking News:

Puluhan Babi di Bulungan Mati

Kasus Babi Mati Mendadak, Dinas Pertanian Bulungan Sebut Belum Hitung Seluruh Kerugian Peternak

Kasus kematian Babi mendadak, Dinas Pertanian Bulungan sebut belum dapat hitung kerugian peternak.

TRIBUNKALTIM.CO
Ilustrasi - Pengambilan sampel pada babi yang diduga terjangkit ASF di Berau, Kaltim. 

TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Kasus kematian Babi mendadak, Dinas Pertanian Bulungan sebut belum dapat hitung kerugian peternak.

Pihak Dinas Pertanian Bulungan mengaku belum dapat menghitung secara pasti jumlah kerugian yang diderita oleh warga di Desa Long Yiin dan Long Lasan akibatnya banyaknya babi ternak yang mati.

Menurut Kabid Peternakan Dinas Pertanian Bulungan, Sri Rejeki ternak babi yang dilakukan oleh warga di dua desa di Kecamatan Peso itu, diperoleh dari babi hutan yang dipelihara.

Baca juga: Waspadai Virus African Swine Fever, Distan Bulungan Imbau Warga tak Konsumsi Daging Babi Sakit

Baca juga: Waspada Virus ASF di Nunukan, Plt Camat Krayan Timur Imbau Warga Tak Konsumsi Daging Babi

Baca juga: 30 Ekor Babi Mati, Kadispertanakan Nunukan Masniadi Minta Warga Waspada Penyakit ASF dan Imbau ini

Puluhan ekor babi dikubur di Desa Wa Yagung dan Desa Bungayan, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, belum lama ini. (Istimewa).
Puluhan ekor babi dikubur di Desa Wa Yagung dan Desa Bungayan, Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, belum lama ini. (Istimewa). (istimewa)

 

Sehingga para warga desa, tidak secara spesifik menernak babi untuk skala besar.
Lantaran, menurut catatan Dinas Pertanian Bulungan, di Desa Long Yiin terdapat 40 ekor babi yang mati, yang berasal dari 47 KK, dengan demikian, tiap KK hanya memelihara 1-2 ekor babi.

"Untuk kerugiannya memang belum bisa kita hitung, karena mereka di sana itu ternak babi yang didapat dari hutan," ujar Kabid Peternakan Dinas Pertanian Bulungan, Sri Rejeki, Senin (14/6/2021).

"Karena mereka sebenarnya juga tidak membeli, dan mereka hanya kasih makan babi dari sisa makanan, mereka bilang juga bingung kalau dikira-kira kerugiannya," tambahnya.

Kendati tidak dapat menghitung kerugian dalam jumlah nominal, Sri Rejeki mengatakan, warga desa mengaku sedih lantaran babi peliharaannya mati.

"Jadi mereka pelihara itu sampai bertahun-tahun, dan mereka sedih juga karena ada yang sudah 8 Tahun dipelihara," ujarnya.

Lebih lanjut, Sri Rejeki mengatakan bila merujuk harga daging babi di kisaran Rp 40.000 per Kilo dan rata-rata berat babi yang dimilili warga sekitar 40 Kilogram.

Maka kerugian yang diderita warga kisaran Rp 1 Juta bila warga tersebut hanya memelihara satu ekor babi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved