Breaking News:

Berkat dan Kekuatan Indonesia Raya

ADA semangat dan harapan menarik yang tersirat pada moto perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76: Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Editor: Sumarsono
IST
Mochamad Husni, Praktisi Hubungan Masyarakat atau 'Public Relations' 

Maka, Indonesia Tangguh dan Tumbuh bukan impian yang mustahil kita wujudkan. Target untuk kembali menjadi Macan Asia yang hebat di banyak bidang pun optimistis dapat kita raih.

Dari segi peta kekuatan, komposisi nasionalis agamis tak jauh berubah hingga sekarang. Ini bisa dibuktikan dari kemunculan partai-partai politik paska reformasi dan kesuksesan mereka meraih dukungan publik dengan mengusung isu nasionalis agamis sebagai daya tarik.

Tingkat elite politik juga demikian. Perpaduan dua kekuatan itu tercermin dari mesin politik di balik dukungan terhadap pemenang pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden-wakil presiden 2019 lalu. Artinya, perspektif yang religius masih berakar kuat di masyarakat.

Merujuk pada pengalaman deklarasi kemerdekaan, situasi sekarang ini menguatkan keyakinan kita bahwa tantangan serumit apapun pasti bisa kita atasi bersama jika ada persatuan.

Pertanyaan berikut yang perlu direnungkan adalah mengenai perspektif Ketuhanan. Masih adakah kacamata yang membuat kita menyadari bahwa berkah Tuhan itu ada?

Setelah menyadari berkah itu ada, optimisme kita harus dipertajam dengan tetap memahami bahwa sesungguhnya perang terus berlanjut hingga sekarang.

Pertempuran antarnegara memang keniscayaan yang tidak akan hilang sampai kapan pun. Orang seringkali terlena bahwa di balik wacana membangun kesepakatan demi menciptakan perdamaian global pun agenda pertarungan kepentingan itu tak pernah sirna.

Kita patut miris jika kita yang diberkati kekayaan alam berupa hutan, tetapi orang lain yang mengatur cara kita mengurus pepohonan, kayu-kayu dan seluruh isi belantara.

Kita harus merasa dikadali ketika hendak mengekspor produk-produk keluar negeri selembar sertifikat dijadikan tameng proteksionisme gaya baru.

Hutan, emas, nikel, minyak bumi, batu bara, rempah-rempah, semua adalah berkat. Kekayaan alam ini terpendam dan tumbuh dengan sendirinya tanpa usaha dan kerja keras kita. Ikan, kopi, cokelat, kelapa sawit juga demikian.

Komoditas-komoditas yang dibutuhkan masyarakat dunia ini adalah di antara sekian banyak berkat yang harus kita jaga. Indonesia mempunyai keunggulan komparatif.

Sinar matahari, curah hujan, jenis tanah pun berkah. Kita patut bersyukur ketika pengalaman dan ilmu pengetahuan memastikan bahwa pohon kelapa sawit yang aslinya dari Afrika Barat ternyata menjadi tanaman yang sangat cocok dibudidayakan di daerah tropis.

Benihnya dibawa tahun 1848 dari Bourbon-Mauritius dan Amsterdam lalu ditanam sebagai koleksi atau ornamental purpose (tanaman hias).

Karena melihat peluang bisnis, mulai 1870 pemerintah kolonial Belanda mengkomersialkannya dengan membangun perkebunan kelapa sawit.

Berkat iklim yang pas crude palm oil (CPO) yang dihasilkan memang menggiurkan, melebihi produktivitas dari negara asal.

Semua keunggulan yang terkandung di dalam tanaman ini --entah manfaatnya sebagai bahan pangan, gaya hidup, hingga sumber energi terbarukan-- itu tentu akan sia-sia ketika beragam halangan tak kita atasi bersama.

Itu sebabnya pemahaman tentang hakikat dan keniscayaan perang menjadi penting. Pertarungan dan pertempuran selalu ada.

Pemahaman tentang bermacam berkat yang kita punya ini sama urgent-nya dengan peningkatan skill dan kompetensi dalam bidang negosiasi dan diplomasi.

Dengan demikian, kita dapat memperlakukan berkat dengan tepat.

Pemberian Tuhan pada Indonesia benar-benar dapat kita kelola demi kemajuan Indonesia Raya. Merdeka!

(*)

Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved