Berita Tarakan Terkini

Sektor Transportasi Paling Terdampak Akibat Kenaikan Harga BBM, Ahmad Sebut Pengeluaran Bertambah

Seorang buruh di Tarakan Ahmad mengaku, dengan adanya kenaikan harga BBM tentunya pengeluaran ikut bertambah. Namun upah tak berubah.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Ahmad SR, buruh pekerja di PT Intraca Kota Tarakan 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan non subsidi resmi diberlakukan 3 September 2022 lalu.

Dampaknya kini sudah mulai dirasakan oleh sejumlah buruh khususnya berkaitan sektor transportasi. Salah satunya seperti diakui Ahmad, buruh di Perusahaan Intraca Kota Tarakan.

Diakuinya sektor transportasi paling real terasa dampaknya. Ia yang saat ini tergabung dalam DPC FSP Kahutindo Kota Tarakan menaungi dua perusahaan besar yakni PT Idec dan PT Intracawood memberikan contoh kebutuhan real pengeluaran khususnya BBM yang digunakan pulang pergi ke tempat bekerja.

Baca juga: Buruh di Kota Tarakan Siapkan Agenda Bahas UMK 2023, Ingin Naik Minimal 15 persen

Ia menjabarkan, biasanya dalam sebulan yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 200 ribu. Kemudian dengan dampak kenaikan BBM, maka lanjutnya pengeluaran menjadi bertambah.

“Dampak kenaikan BBM 30 persen kalau dihitung, itu nyata sudah penambahan nilai untuk beban khusus transportasi dan nyata Rp 70 ribu harus dikeluarkan penambahannya,” ungkap.

Baca juga: Mulai Soal UMKM, Upah Buruh Sampai Kegiatan CSR, Pemkab Terima Saran dan Masukan DPRD Bulungan

Sedangkan lanjutnya, Upah Minimum Kota (UMK) saat ini masih berjalan, kenaikannya hanya Rp 12 ribu. Maka dari itu lanjutnya, dampak ini sangat luar biasa menyulitkan kaum buruh.

“Kita belum berbicara masalah UMK tahun 2023 bagaimana kenaikannya, ini sudah dihadapkan kenyataan pengeluaran real hari-hari saat ini sudah dihadapir pekerja buruh di Tarakan dari sektor transportasi,” jelasnya.

Aktivitas buruh tergabung dalam Barisan Buruh Melawan saat menyuarakan aksi penolakan Permenaker Nomor 2 Tahun 2022.
Aktivitas buruh tergabung dalam Barisan Buruh Melawan saat menyuarakan aksi penolakan Permenaker Nomor 2 Tahun 2022. (TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH)

Belum lagi sektor lainnya, harga sembako mulai dari beras, telur, minyak perlahan merangkan naik. Itu semua kesulitan yang dihadapi ia bersama rekan-rekannya.

“Itu real yang sudah terasa dan dihadapi bersama-sama. Kita belum tahu ke depannya seperti apa. Yang pasti kita sudah mengalami penurunan daya beli kita sekitar 50 persen,” urainya.

Baca juga: Peran Penting Asosiasi Pekerja di Malinau Selesaikan Perselisihan, Disnaker Dorong Buruh Berserikat

Penurunan daya beli itu karena saat ini orang-orang berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang dengan kondisi harga saat ini mengalami kenaikan.

“Nilai upah kita tetap seperti itu saja, tapi beban yang dihadapi pekerja buruh sangat besar,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved