Berita Nunukan Terkini
Temukan 6 Kasus, Dinkes Nunukan Tetapkan KLB Campak, Sabaruddin Minta Warga Kenali Gejala Awal
Dinas Kesehatan (Dinkes) Nunukan menetapkan kejadian luar biasa (KLB) campak, setelah muncul kasus campak di Kelurahan Nunukan Tengah.
Penulis: Febrianus Felis | Editor: M Purnomo Susanto
TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Nunukan menetapkan kejadian luar biasa (KLB) campak setelah muncul kasus campak di Kelurahan Nunukan Tengah.
Sementara ini, Dinkes Nunukan mencatat ada 6 kasus campak yang tersebar di tiga RT (rukun tetangga), Kelurahan Nunukan Tengah
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Nunukan, Sabaruddin, mengatakan 6 kasus campak tersebut ditemukan pada range usia 3-38 tahun.
"Minggu terakhir Desember 2022 kami dapat laporan dari rumah sakit bahwa ada pasien campak. Kemudian Dinkes dan Puskesmas turun lakukan investigasi epidemiologi," kata Sabaruddin kepada TribunKaltara.com, Jumat (06/01/2023), pukul 14.00 Wita.
Baca juga: Kepala Sekolah SDN 010 Sembakung Diadukan Para Guru ke Disdikbud Nunukan, Ada Apa?
Dari investigasi epidemiologi kata Sabaruddin, ditemukanlah 6 orang yang memiliki gejala campak.
"Setelah sampel darahnya kami ambil, lalu kami kirim ke Jakarta untuk uji laboratorium. Hasilnya semua positif. Untuk menetapkan KLB, minimal ada dua kasus positif campak," ucapnya.
Dia meminta kepada warga untuk mengenali gejala awal dari campak agar bisa segera ditangani oleh dokter.
Sabaruddin menyebut gejala awal infeksi campak biasanya berupa batuk berdahak, pilek, demam tinggi dan mata merah.
"Pada anak-anak memiliki bintik-bintik koplik (bintik-bintik merah kecil dengan pusat biru-putih) di dalam mulut sebelum ruam dimulai. Ruma itu biasanya dari belakang telinga, sekitar kepala, kemudian ke leher. Pada akhirnya akan menyebar ke seluruh tubuh," ujarnya.
Menurut Sabaruddin, pengobatan campak hanya mengobati gejala yang timbul. Sehingga dapat dicegah melalui imunisasi.
Dinkes Nunukan telah mendirikan posko di wilayah terdampak untuk mendekatkan pelayanan, mengantisipasi penularan, termasuk memantau perkembangan penderita campak.
"Bawalah anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun untuk mendapatkan imunisasi campak. Petugas juga berikan vitamin A. Kami khawatir ada komplikasi yang disebabkan campak seperti bronkitis, infeksi paru-paru (pneumonia), radang pada telinga, dan infeksi otak. Semua berakibat fatal," tuturnya.
Baca juga: Pria di Nunukan Aniaya Istri yang Sedang Hamil, Kesal karena Sering Ganti Sandi HP
Imunisasi Campak Belum Merata
Sabaruddin menyampaikan bahwa cakupan imunisasi campak untuk anak-anak di Kabupaten Nunukan belum merata.
Apalagi selama dua tahun pemberian vaksinasi campak sempat terkendala akibat pandemi Covid-19.
"Tahun 2020-2021 capaian vaksinasi campak masih berkisar antara 40-50 persen. Tahun 2022 capaian meningkat hampir 90 persen," ungkapnya.
Penulis: Febrianus Felis
3 Desa Baru di Nunukan Kaltara Siap jadi Definitif, Berpeluang Gelar Pilkades Perdana Tahun Depan |
![]() |
---|
Wabup Hermanus Ungkap 6 Agenda Prioritas dalam APBD Perubahan 2025 Nunukan Kaltara |
![]() |
---|
Rancangan Pendapatan APBD-P Nunukan 2025 Turun 5,20 Persen, Wabup Sebut Fokus ke Program Prioritas |
![]() |
---|
5 Perusahaan di Nunukan Siap biayai 600 Jiwa Peserta Non JKN Lewat CSR, Dinkes: Sisa 11.456 Orang |
![]() |
---|
Dua Pelajar Nunukan ke Panggung Nasional, Gaungkan Budaya Tidung di Ajang Duta Budaya Indonesia 2025 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.