Berita Tarakan Terkini

Kasus Asusila Korban di Bawah Umur, Psikolog Fanny Sumajouw Nilai Ada Degradasi Moral

Dua kasus terbaru melibatkan tindak asusila terhadap belasan korban yang rerata berusia di bawah umur saat ini masih ditangani Polres Tarakan.

Penulis: Andi Pausiah | Editor: Junisah
TRIBUNKALTARA.COM/ ANDI PAUSIAH
Psikolog Fanny Sumajouw, S.Psi, Psi. 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Dua kasus terbaru melibatkan tindak asusila terhadap belasan korban yang rerata berusia di bawah umur saat ini masih ditangani Polres Tarakan.

Dua kasus ini cukup menjadi sorotan masyarakat pasalnya pelaku dan korban sama-sama berjenis kelamin laki-laki. Tak tanggung-tanggung, korban E mencapai 12 anak dan AR mencapai lima anak.

Psikolog Fanny Sumajouw, S.Psi, Psi menilai kasus pelecehan, pencabulan atau asusila yang terjadi sebenarnya merata di Kaltara. Belum lama ini ia juga menangani kasus pelecehan dan pencabulan di Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Bulungan.

Baca juga: Tangani Kasus Asusila yang Dilakukan Oknum Guru, Polisi Libatkan LPSK, Psikolog dan Pemkot Tarakan

“Jadi sebenarnya kasusnya tidak hanya terjadi di Tarakan. Yang disoroti di Tarakan karena memang kasusnya beruntun dimana korbannya anak di bawah umur dan sesama jenis,” urai Fanny, sapaan akrabnya kepada TribunKaltara.com.

Jika mencoba mencari benang merah terjadinya kasus-kasus ausila ini kata Fanny, ada banyak penyebabnya.

Ia juga sebenarnya sudah memprediksi, kasus pedofil yang pernah terjadi di luar negeri dan menjadi tren, bisa terjadi di Indonesia.

“Dulu kan sempat ada tren di luar negeri kasus pedofil. Sebagian orang beranggapan jika mencabuli anak laki-laki, tidak akan menimbulkan resiko yang berat, karena ga mungkin hamil.
Jadi kalau tidak ketahuan, yah akan aman, meski korbannya di bawah umur. Nah ini kan pemahaman yang salah sebenarnya,” urai Psikolog Fanny.

Baca juga: Ajak ke Toilet, 5 Bocah di Tarakan jadi Korban Asusila Oknum Guru Honorer, Pelaku AR Juga Akui ini

Kembali menelisik lebih jauh penyebabnya, salah satunya disebutkan Fanny yakni disebabkan adanya game-game online yang muncul.

“Ini kan terjadi karena gara-gara hasrat libido yang muncul secara liar berdasarkan video yang mereka tonton atau mungkin pernah lihat contoh kasus artis yang belum lama ini bebas (kasus pedofil yang dikecam). Jadi makin ke sini, orang mengadopsi bukan berita kasus dan hukumannya, tetapi cenderung ke contoh perilaku deviasi seksualnya yang menjadi tren,” urai Psikolog Fanny.

Membahas persoalan kasus melibatkan tersangka AR (27) yang melakukan asusila kepada lima anak muridnya. Bahkan memiliki latar belakang sebagai guru mengaji.

Teori Abraham Harold Maslow, psikolog asal Amerika menuliskan tingkat hierarki kebutuhan manusia berdasarkan piramida yang dibentuk. Yang paling dasar atau piramida paling terbesar ada di bagian terbawah yakni dikatakan Fanny, adalah kebutuhan fisiologis, termasuk di dalamnya kebutuhan biologis.

Kebutuhan fisik berkaitan dengan kebutuhan primer dan sekunder, diikuti dengan kebutuhan biologis, yaitu pemenuhan hasrat.

Ilustrasi - Korban asusila
Ilustrasi - Korban asusila (KOLASE TRIBUNKALTARA.COM)

“Kenapa kebutuhan biologis ditempatkan Abraham Maslow paling bawah? Karena memang 80 persen ini yang menguasai manusia. Orang bilang kedagingan, kebutuhan daging. Jadi akibatnya, orang-orang yang memiliki defense mekanisme atau pertahanan dirinya yang benar-benar uncontrol, dia tidak akan bisa menguasai diri lagi,” beber Fanny.

Pada akhirnya, pelaku butuh objek untuk menjadi tempat pelampiasan dalam hal pemenuhan kebutuhan-kebutuhan biologisnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved