Opini
Bulungan Melawan Arus Pembangunan
Penandatanganan IAD Lanskap Kayan menandai tonggak penting komitmen politik dan moral Pemkab Bulungan bersama masyarakat.
Meski menjanjikan, membangun IAD bukan tanpa luka dan tantangan.
Berbagai pendampingan yang dilakukan sejak 2022 oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama mitra lokal menunjukkan masalah klasik pembangunan desa: akses jalan yang terbatas, kapasitas SDM yang timpang, ketergantungan finansial pada Dana Desa dan APBD, serta lemahnya tata kelola administratif.
Ironisnya, desa-desa dengan aset alam premium—kakao, kopi, madu hutan, dan potensi wisata alam—justru belum mampu mengonversi kekayaan tersebut menjadi Pendapatan Asli Desa (PADesa) yang kuat.
Tanpa infrastruktur pendukung dan peningkatan kapasitas, IAD berisiko berhenti sebagai konsep indah di atas kertas.
Namun, justru di sinilah kekuatan pendekatan Lanskap Kayan diuji dan dibuktikan.
Melalui pendekatan SIGAP (aksi inspiratif warga untuk perubahan), warga desa bukan sekadar objek program, tetapi aktor perubahan.
Penanaman ratusan tanaman lokal, integrasi kebun kakao dan kopi dengan hutan, hingga pengembangan hasil hutan non-kayu menunjukkan bahwa ekonomi berbasis alam (nature-based economy) bukan utopia.
Lebih penting lagi, proses ini berjalan dengan Prinsip Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa), memastikan pembangunan tidak mencederai martabat dan hak masyarakat.
Baca juga: Kolaborasi Pemkab Bulungan dan YKAN, Desa Long Buang jadi Sentra Perkebunan Berkelanjutan
Inklusivitas sebagai Fondasi, Bukan Aksesori
Salah satu kekuatan paling progresif dari IAD Bulungan adalah keberpihakan nyata pada kelompok yang selama ini paling sering tersingkir: masyarakat adat, perempuan, dan komunitas marginal.
Pengakuan hukum terhadap Masyarakat Adat Punan Batu melalui SK Bupati pada April 2023 adalah pesan tegas bahwa pembangunan tidak boleh menghilangkan identitas dan ruang hidup komunitas asli.
Lebih jauh, rencana pengembangan taman bumi (geopark) di wilayah Gunung Benar memperlihatkan potensi besar pemanfaatan jasa lingkungan tanpa mengorbankan nilai budaya dan ekologis.
Ini pelajaran penting: perlindungan hak adat bukan penghambat pembangunan, melainkan prasyarat keberlanjutan.
Dari Bulungan untuk Dunia
Sebagai bagian dari Inisiatif Jantung Borneo (Heart of Borneo) sejak 2006, Bulungan memegang peran strategis dalam upaya konservasi kawasan lintas negara seluas 220.000 km⊃2;.
Dengan IAD, Indonesia menunjukkan bahwa komitmen iklim dan keanekaragaman hayati—termasuk target Nationally Determined Contributions (NDC) dalam Kesepakatan Paris—dapat diwujudkan dari desa, bukan hanya dari podium internasional.
Namun, agar IAD Lanskap Kayan benar-benar menjadi standar dunia, ada prasyarat yang tak boleh diabaikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Indah-Astuti.jpg)