Breaking News:

Berita Daerah Terkini

Jatam Kaltim Ungkap Jelas Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang Batubara, Beber 1.404 IUP dan 30 PKP2B

Jatam Kaltim ungkap jelas kerusakan lingkungan akibat tambang batubara, beber 1.404 IUP dan 30 PKP2B.

Editor: M Purnomo Susanto
istimewa
Sungai Palakan dan Sungai Santan di Kutai Kartanegara yang terdampak oleh limbah penambangan batubara oleh salah satu perusahaan. 

TRIBUNKALTARA.COM, SAMARINDA - Jatam Kaltim ungkap jelas kerusakan lingkungan akibat tambang batubara, beber 1.404 IUP dan 30 PKP2B.

Aktivitas penambangan batubara di Kalimantan Timur kini semakin mengundang keresahan berbagai kalangan.

Bagaimana tidak, setiap tahun jumlah perusahaan tambang batu bara di Pulau Borneo ini terus menjamur dan berkembang.

Data disampaikan Dinamisator Jaringan Advokasi Jatam ( Jatam ) Kalimantan Timur ( Kaltim ), Pradarma Rupang, 43 % dari luas wilayah daratan Kaltim sudah dikonversi, atau telah dirubah menjadi pertambangan batubara.

Baca juga: Hasil Laut Menurun, Nelayan Malinau Minta Illegal Fishing & Pengolahan Limbah Tambang Diawasi Ketat

Baca juga: 2 Bulan Setelah Kasus Pencemaran Sungai Malinau, Manajemen PT KPUC Sebut Itu Bukan Limbah Tambang

Baca juga: RSU Kota Tarakan Sudah Miliki Tempat Pembuangan Sampah Sementara untuk Limbah Medis Covid-19

Diduga Tercemar Limbah Tambang, PDAM Kewalahan Pasok Air Bersih & Terancam Hentikan Produksi. (HO/Tangkapan layar rekaman video warga)
Diduga Tercemar Limbah Tambang, PDAM Kewalahan Pasok Air Bersih & Terancam Hentikan Produksi. (HO/Tangkapan layar rekaman video warga) (HO/Tangkapan layar rekaman video warga)

Bahkan dari data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim yang mereka dapatkan ada 1.404 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan 30 Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B).

Dalam kesempatan tersebut, Jatam Kaltim mengungkap satu temuan lapangan di satu lokasi hasil investigasi di Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

"Hasil temuan kita adalah setidaknya ada 53 lubang tambang yang ditinggalkan menganga sejak pertama kali perusahaan Batu Bara beroperasi di wilayah tersebut hingga 2025 mendatang," jelas Pradarma Rupang, dalam zoom meeting, pada Jumat (11/6/2021).

Tak segan-segan, Rupang menyebut salah satu perusahaan besar yang beraktifitas di Kaltim, sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap terciptanya lubang-lubang tambang tersebut.

Ungkapan sama, disampaikan pula oleh Anggota Jatam di Kutai Barat, Teresya Jari.

Teresya Jari, diberikan tugas oleh Jatam Kaltim untuk mengambil sample dari air Sungai Palakan dan Sungai Santan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved