Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Debat Pilkada Adu Visi-Misi, Bukan Sensasi

Debat kandidat yang disiarkan live di televisi maupun media sosial sepertinya belum menunjukkan gambaran mengenai visi-misi paslon jelang Pilkada.

Tayang:
Editor: Amiruddin
DOK
Sumarsono, Pemimpin Redaksi TribunKaltara.com 

Oleh: Sumarsono

Pemimpin Redaksi TribunKaltara.com

TRIBUNKALTARA.COM - DEBAT publik pertama pasangan calon kepala daerah pada Pilkada serentak 2024 di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sudah selesai digelar. Pelaksanaan debat kandidat yang disiarkan live di televisi maupun media sosial sepertinya belum menunjukkan gambaran mengenai visi-misi masing-masing paslon secara mendalam kepada masyarakat pemilih.

Sesi debat antarpaslon yang diharapkan bisa membedah secara mendalam visi-misi melalui adu argumentasi, terkesan justru saling ingin menjatuhkan satu sama lainnya. Saling sindir, ingin memojokkan paslon lawan masih terlihat saat masing-masing paslon diminta bertanya.

Bukannya menanyakan esensi program kerja atau visi-misi paslon lawannya agar terjadi debat argumen. Sebaliknya sejumlah paslon terutama lawan petahana mencoba mencari sisi-sisi kelemahan dan menyerang ketika ada beberapa program yang sudah dicanangkan.

Baca juga: Saling Adu Visi Misi, Gelaran Debat Publik Pilkada Bulungan Berlangsung Sengit di Segment Pertama

Harapan masyarakat pemilih mendapatkan gambaran program kerja paslon kepala daerah melalui debat publik tidak dirasakan. Mereka malah dipertontonkan dengan adegan saling sindir dan memojokkan paslon lain melalui pertanyaan-pertanyaan yang tidak sesuai dengan esensi debat.

Menarik misalnya, saat debat publik pertama paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor - Hadi Mulyadi dengan Rudy Masud - Seno Aji

Ketika memasuki sesi tanya jawab, calon Gubernur nomor urut 1 Isran Noor memberikan tanggapan dan pertanyaan terhadap program paslon lawan.

Suasana debat yang ditayangkan melalui TVRI dan RRI sedikit panas saat Isran Noor, memberikan tanggapan pedas terhadap program yang diusung oleh rivalnya.

Menggunakan bahasa Banjar yang cukup tajam, Isran Noor dengan lantang menyatakan, “Pahamlah Ikam? Banyak janji tapi kada tahu,” ujarnya, yang langsung memancing tawa dari sebagian audiens.

Sambil pandangan Isran Noor ke arah Rudy Masud - Seno Aji. Cuplikan tanggapan Isran Noor ini pun langsung ramai beredar di media sosial.  Isran juga meluruskan pernyataan Rudy yang salah menyebut “10 kecamatan” sebagai wilayah cakupan program kesehatan, padahal yang dimaksud adalah 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

“Bagus aja pang, cuman handak jadi gubernur kah. Kalau aku banyak kritik takut dilapor polisi,” sebuah sindiran yang jelas ditujukan untuk meragukan kesiapan paslon 02 dalam memimpin Kaltim.

Hal sama juga terjadi di debat publik Pilkada Kalimantan Utara. Beberapa paslon baik di Pilgub maupun Pilkada Kabupaten/Kota “menyerang” paslon petahana. Mereka seakan mencari celah-celah ingin menjatuhkan paslon lawannya, terutama petahanan. Pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan terkadang di luar konteks.

Dalam konteks debat memang tidak salah ada paslon yang ingin membuat paslon lawannya merasa terpojok dengan pernyataannya. Namun di mata publik akan beda.

Ada yang beranggapan itu wajar-wajar saja. Ada pula yang menilai hal itu berlebihan, sehingga membuat kesan meremehkan paslon lawan.

Kita masih ingat ketika debat Capres antara Prabowo yang seakan diserah dua lawannya, yakni Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Ketika itu, Anies dan Ganjar memberikan nilai kepada Prabowo yang jauh di luar logika. Jadi ada kesan keduanya meremehkan Prabowo.

Yang terjadi di masyarakat, justru apa yang dilakukan Anies dan Ganjar “menyerang” Prabowo hingga membuatnya tampak sedih dan menangis membuat masyarakat simpatik. Oleh tim pemenangan Prabowo-Gibran diolah hingga ramai di media sosial.

Menanggapi debat publik pertama Pilkada Kaltim, pakar komunikasi dari FISIP Universitas Mulawarman, Silviana Purwanti mengatakan, ada beberapa aspek penting dalam debat, terutama dari sudut pandang komunikasi politik.

Satu hal yang menonjol adalah bagaimana masing-masing calon memanfaatkan retorika (seni dalam berbicara) untuk memengaruhi persepsi publik. Menurutnya beberapa calon terlihat mampu menyusun argumen dengan baik dan menyampaikannya secara persuasif. 

Namun, ada juga yang masih kurang mengoptimalkan kesempatan untuk memberikan pesan yang jelas dan efektif dalam menjabarkan visi-misinya.

Menurutnya, penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat luas adalah kunci utama agar pesan bisa diterima dengan baik.

Namun di beberapa kesempatan, hal ini masih belum tercapai. Selain itu, komunikasi non-verbal selama debat juga memainkan peran penting.

Ekspresi wajah, gestur tubuh, serta nada bicara para kandidat turut memengaruhi bagaimana audiens menafsirkan keseriusan serta kejujuran dari program-program yang mereka tawarkan.

Jadi sangat disayangkan kandidat yang seringkali lebih fokus pada serangan personal atau tanggapan emosional dibandingkan penjelasan substansial terkait program kerja.

Hal ini bisa mengalihkan perhatian publik dari inti persoalan yang sebenarnya harus dikaji lebih mendalam

Debat publik ini jelas menjadi salah satu ajang penting untuk mengukur kemampuan para calon dalam merespons masalah yang dihadapi Kaltim. Namun, dengan fokus yang masih berat pada serangan verbal dan retorika.

Mengubah Persepsi Pemilih

Debat kandidat dalam Pilkada berperan penting dalam membentuk persepsi pemilih terhadap para paslon kepala daerah. Melalui debat, para paslon memiliki kesempatan untuk menyampaikan visi-misi, serta program kerja yang akan mereka laksanakan jika terpilih.

Selain itu, debat juga menjadi ajang bagi pemilih untuk melihat sikap, pengetahuan, dan kemampuan komunikasi paslon.

Hal ini seringkali menjadi indikator penting dalam menilai kepemimpinan mereka. Melalui debat, pemilih bisa mendapatkan informasi langsung dari para paslon mengenai program mereka, seperti pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. 

Informasi yang diperoleh dalam debat membantu pemilih memahami perbedaan program dan pandangan paslon kepala daerah sehingga dapat memilih yang paling sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka.

Bagi pemilih yang sudah memiliki preferensi terhadap paslon tertentu, sehingga melalui debat dapat memperkuat dukungan mereka jika tampil meyakinkan dan menguasai isu-isu yang dibahas.

Sebaliknya, bagi pemilih yang belum memutuskan atau ragu-ragu, debat bisa menjadi penentu yang akan mengubah pandangan mereka terhadap paslon tertentu.

Melalui debat, masyarakat pemilih dapat menilai kompetensi, integritas, dan gaya komunikasi paslon melalui cara mereka menjawab pertanyaan atau merespons serangan dari paslon lain.

Hal ini bisa memberikan gambaran apakah kandidat tersebut mampu menghadapi situasi sulit dan memiliki kemampuan diplomasi yang baik. 

Debat publik yang disiarkan secara luas dan menarik perhatian masyarakat dapat mendorong masyarakat yang awalnya kurang tertarik untuk lebih terlibat dalam proses Pilkada.

Ketika pemilih merasa memiliki cukup informasi dan menyadari pentingnya memilih, partisipasi dalam pemungutan suara bisa meningkat.

 (*)

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved