Selasa, 28 April 2026

Opini

Minyak Global Mahal: Kemandirian Energi, Mendesak

Fiskal yang kuat menjadi penentu stabilitas dan pertumbuhan  ekonomi. Bahkan menjadi penentu ketahanan nasional.

Editor: Amiruddin
ISTIMEWA
Dosen Fakultas Ekonomi UBT, Dr Margiyono 

Oleh: Dr Margiyono

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan 

TRIBUNKALTARA.COM - Gejolak Timur Tengah berdampak luas. Harga minyak global terkerek naik. Banyak negara mabuk simalakama. Naikan BBM salah tidak naikan juga salah. Jika dinaikan imbasnya kemana-mana dan pasti memanas.  Di tengah kesulitan itu pemerintah Indonesia terpaksa naikan harga BBM non-subsidi. 

 Akan tetapi, BBM bersubsidi harganya tidak berubah. Sehingga, potensi kenaikan beban masyarakat ditanggung oleh kantong pemerintah. Kebijakan kenaikan BBM non subsidi adalah  pilihan kritis, tetapi  paling realistis. Karena jika dibiarkan,  beban ABPN makin berat. 

Kebijakan tersebut dipandang sebagai jalan tengah. Win-win solution. Membagi beban dengan golongan atas dengan tetap melindungi golongan miskin. Meskipun pembeli BBM subsidi tidak semuanya orang miskin. Kenaikan harga BBM non subsidi dilakukan untuk mengurangi beban fiskal dan menjaga stabilitas. 

Fiskal yang kuat menjadi penentu stabilitas dan pertumbuhan  ekonomi. Bahkan menjadi penentu ketahanan nasional. Karena itu upaya menciptakan kemandirian energi adalah sebuah keniscayaan.

Baca juga: Ekonomi Indonesia di Tengah Konflik Global

Stabilitas Ekonomi

Di tengah tekanan global pemerintah menghadapi pilihan yang tidak mudah. Asumsi harga BBM di APBN 2026 sekitar 80$/barel. Jika diatas asumsi maka pemerintah harus merogoh kantong lebih dalam untuk nambah subsidi. Meskipun begitu Pemeintah juga sudah menyiapkan skenario jika harga minyak global mencapai 100 $/barel. 

Naiknya harga BBM global mendorong pemerintah menyesuaikan harga jual BBM. Untung, terdapat beberapa jenis BBM dengan harga yang variatif. Dari yang bersubisdi hingga non subsidi.  Keputusan menaikkan BBM non-subsidi merupakan opsi yang paling optimal. Karena, tidak menyentuh apalagi mengusik masyarakat bawah.

Harga BBM non subsidi memang mengikuti harga pasar. Jika harga global naik maka, harga dalam negeri otomatis naik. Dampak dari penyesuaian itu secara ekonomi, sosial dan politik  relatif kecil. Karena hanya terbatas pada masyarakat penggunannya yang memang berkantong tebal.

Berbeda jika yang  dinaikkan BBM subsidi. Risiko ekonominya jauh lebih besar karena, dampaknya langsung dirasakan kelompok masyarakat kebanyakan. Apalagi hampir seluruh sektor ekonomi sangat bergantung pada transportasi dan distribusi yang menggunakan BBM

Jika harga BBM subsidi naik, maka biaya produksi akan ikut meningkat. Ujung-ujungnya para produsen  menimpaka beban tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.  Sungguh makin berat beban masyarakat yang berpendapatan rendah.  

Secara makro, selain  memotong daya beli, menekan konsumsi, juga mendorong biaya transportasi dan produksi. Ujung dari cerita itu  adalah kenaikan  inflasi. Usaha menekan inflasi menjadi sangat penting. 

Apalagi nilai tukar rupiah belum sepenuhnya pulih. Pelemahan rupiah dari kisaran Rp16.000 menuju Rp17.000 per dolar AS, akan menambah beban biaya impor. Hal itu bisa  memicu kenaikan harga bahan baku impor  di berbagai sektor. Oleh karena pengendalian inflasi baik dari sisi domestik atau eksternal menjadi mutlak untuk dilakukan. 

Kemudian jika BBM bersubsidi dinaikan maka, secara sosial, rumah tangga yang berada pada  hampir miskin jatuh  menjadi miskin. Itu artinya sebagian besar kelompok menengah juga akan turun kelas. Karena itu kenaikan  harga BBM subsidi juga dinilai membawa risiko secara sosial juga  politik. Bukankah, pada saat daya beli melemah dan harga kebutuhan meningkat, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah bisa menurun. 

Untung harga minyak bersubsidi tidak dinaikan sehingga risiko itu tidak terjadi. Meskipun APBN agak sedikit ngos-ngosan posisi; daya beli, biaya produksi dan inflasi tetap terjaga. Sehingga stabilitas harga, ekonomi, sosial dan politik masih tetap terjaga.

Menuju Kemandirian Energi

Kenaikan harga minyak dunia tidak selalu harus dilihat sebagai ancaman. Artinya bagi Indonesia masih ada nilai positifnya. Hal itu karena, Indonesia masih memiliki cadangan dan produksi minyak domestik.  Melalui sejumlah kilang dalam negeri, minyak dalam negeri juga ada, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. 

Proporsi produksi dalam negeri setengah abad terakhir memang terus  menurun.  Tahun 1980 an  sebagai pengekspor dan saat ini kapasitas produksi dalam negeri  sisa 50 persen dari kebutuhan. Meskipun tidak 100 persen,  kenaikan harga minyak global tetap memiliki sisi positif.

Oleh karena itu, kenikan harga saat ini hendaknya menjadi peluang peningkatan kapasitas produksi. Ketika harga minyak global naik, maka nilai jual minyak dalam negeri  juga ikut meningkat. Kondisi itu dapat menjadi sumber  pendapatan bagi BUMN energi maupun pemerintah. 

Artinya kenaikan harga minyak domestik yang dipicu oleh kenaikan harga global juga ada berkahnya. Karena, beban subsidi yang muncul akibat selisih harga impor tidak sepenuhnya harus ditanggung APBN.  Kenaikan itu sejatinya  dikompensasi oleh peningkatan penerimaan dari produksi minyak nasional. 

Dalam posisi saat ini pemerintah sebenarnya tidak menanggung beban sebesar yang dibayangkan banyak pihak. Konsumen BBM non-subsidi menanggung kenaikan harga sesuai mekanisme pasar, sementara pendapatan dari produksi minyak dalam negeri ikut meningkat. 

Kombinasi dua faktor itu membuat tekanan terhadap APBN lebih terkendali. Berbeda jika semua jenis BBM adalah bersubsidi. Karena itu solusi jangka menengah yang paling tepat atas kenaikan hanya minyak global adalah meningkatkan produksi minyak dalam negeri. 

Melalui penguatan produktivitas kilang nasional. Jika harus terus mengimpor minyak maka, APBN akan terus terbebani. Selain itu, kebutuhan dolar AS untuk impor juga tidak bisa dihindarkan. Semakin besar permintaan dolar, semakin kuat mata uang tersebut dan semakin tertekan nilai tukar rupiah. 

Apabila produksi domestik bisa ditingkatkan, maka impor akan dikurangi, devisa dihemat, pasokan energi terjaga, harga BBM stabil  serta perkuat nilai tukar rupiah. Strategi berikutnya untuk perkuat ketahanan nasional adalah percepat transformasi energi dari fosil ke non-fosil.

Kendaraan berbasis BBM menuju kendaraan listrik. Transformasi itu tidak hanya ciptakan stabilitas ekonomi. Akan tetapi mampu kurangi ketergantungan impor BBM, perkuat neraca perdagangan dan nilai tukar.  Bahkan perkuat sistem energi nasional yang lebih berkelanjutan. Merdeka!!!!

(*)

Sumber: Tribun Kaltara
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved