Senin, 4 Mei 2026

Opini

Pers Bebas Mengkritik, Merdeka dari Intrik

Hari Kebebasan Pers Sedunia bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan pers adalah pilar utama demokrasi yang harus terus dijaga.

Tayang:
Editor: Amiruddin
ISTIMEWA
Ketua PWI Bulungan, Fathu Rizqil Mufid (Istimewa) 

Kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk meluruskan.

Bukan untuk memperkeruh, tetapi untuk memperbaiki.

Di tengah dinamika daerah dan nasional, tantangan terhadap kemerdekaan pers tidak pernah benar-benar hilang.

Tekanan, intimidasi, hingga upaya membungkam melalui berbagai cara masih menjadi ancaman nyata.

Bahkan, dalam beberapa kasus, intrik kekuasaan kerap mencoba memanfaatkan media sebagai alat legitimasi, bukan sebagai pengontrol.

Di titik inilah pers harus tegas mengambil posisi.

Netralitas bukan berarti diam.

Objektivitas bukan berarti tunduk.

Pers harus berdiri di atas kepentingan publik, bukan kepentingan politik praktis.

Kemerdekaan pers sejatinya adalah kemerdekaan untuk berpikir jernih, bersuara jujur, dan bekerja profesional.

Wartawan tidak boleh terjebak dalam arus pragmatisme, apalagi menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang mengaburkan fakta.

Sebaliknya, pers harus menjadi pilar keempat demokrasi yang kokoh.

Mengawasi jalannya pemerintahan, mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak, serta memastikan suara masyarakat tetap terdengar.

Di daerah seperti Kalimantan Utara, peran pers menjadi semakin strategis.

Di tengah pembangunan yang terus berjalan, pers memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap proses berjalan transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved