Opini
Debat Pilkada Adu Visi-Misi, Bukan Sensasi
Debat kandidat yang disiarkan live di televisi maupun media sosial sepertinya belum menunjukkan gambaran mengenai visi-misi paslon jelang Pilkada.
Oleh: Sumarsono
Pemimpin Redaksi TribunKaltara.com
TRIBUNKALTARA.COM - DEBAT publik pertama pasangan calon kepala daerah pada Pilkada serentak 2024 di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sudah selesai digelar. Pelaksanaan debat kandidat yang disiarkan live di televisi maupun media sosial sepertinya belum menunjukkan gambaran mengenai visi-misi masing-masing paslon secara mendalam kepada masyarakat pemilih.
Sesi debat antarpaslon yang diharapkan bisa membedah secara mendalam visi-misi melalui adu argumentasi, terkesan justru saling ingin menjatuhkan satu sama lainnya. Saling sindir, ingin memojokkan paslon lawan masih terlihat saat masing-masing paslon diminta bertanya.
Bukannya menanyakan esensi program kerja atau visi-misi paslon lawannya agar terjadi debat argumen. Sebaliknya sejumlah paslon terutama lawan petahana mencoba mencari sisi-sisi kelemahan dan menyerang ketika ada beberapa program yang sudah dicanangkan.
Baca juga: Saling Adu Visi Misi, Gelaran Debat Publik Pilkada Bulungan Berlangsung Sengit di Segment Pertama
Harapan masyarakat pemilih mendapatkan gambaran program kerja paslon kepala daerah melalui debat publik tidak dirasakan. Mereka malah dipertontonkan dengan adegan saling sindir dan memojokkan paslon lain melalui pertanyaan-pertanyaan yang tidak sesuai dengan esensi debat.
Menarik misalnya, saat debat publik pertama paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor - Hadi Mulyadi dengan Rudy Masud - Seno Aji.
Ketika memasuki sesi tanya jawab, calon Gubernur nomor urut 1 Isran Noor memberikan tanggapan dan pertanyaan terhadap program paslon lawan.
Suasana debat yang ditayangkan melalui TVRI dan RRI sedikit panas saat Isran Noor, memberikan tanggapan pedas terhadap program yang diusung oleh rivalnya.
Menggunakan bahasa Banjar yang cukup tajam, Isran Noor dengan lantang menyatakan, “Pahamlah Ikam? Banyak janji tapi kada tahu,” ujarnya, yang langsung memancing tawa dari sebagian audiens.
Sambil pandangan Isran Noor ke arah Rudy Masud - Seno Aji. Cuplikan tanggapan Isran Noor ini pun langsung ramai beredar di media sosial. Isran juga meluruskan pernyataan Rudy yang salah menyebut “10 kecamatan” sebagai wilayah cakupan program kesehatan, padahal yang dimaksud adalah 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
“Bagus aja pang, cuman handak jadi gubernur kah. Kalau aku banyak kritik takut dilapor polisi,” sebuah sindiran yang jelas ditujukan untuk meragukan kesiapan paslon 02 dalam memimpin Kaltim.
Hal sama juga terjadi di debat publik Pilkada Kalimantan Utara. Beberapa paslon baik di Pilgub maupun Pilkada Kabupaten/Kota “menyerang” paslon petahana. Mereka seakan mencari celah-celah ingin menjatuhkan paslon lawannya, terutama petahanan. Pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan terkadang di luar konteks.
Dalam konteks debat memang tidak salah ada paslon yang ingin membuat paslon lawannya merasa terpojok dengan pernyataannya. Namun di mata publik akan beda.
Ada yang beranggapan itu wajar-wajar saja. Ada pula yang menilai hal itu berlebihan, sehingga membuat kesan meremehkan paslon lawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Sumarsono2.jpg)