Selasa, 28 April 2026

Opini

Minyak Global Mahal: Kemandirian Energi, Mendesak

Fiskal yang kuat menjadi penentu stabilitas dan pertumbuhan  ekonomi. Bahkan menjadi penentu ketahanan nasional.

Editor: Amiruddin
ISTIMEWA
Dosen Fakultas Ekonomi UBT, Dr Margiyono 

Kenaikan harga minyak dunia tidak selalu harus dilihat sebagai ancaman. Artinya bagi Indonesia masih ada nilai positifnya. Hal itu karena, Indonesia masih memiliki cadangan dan produksi minyak domestik.  Melalui sejumlah kilang dalam negeri, minyak dalam negeri juga ada, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. 

Proporsi produksi dalam negeri setengah abad terakhir memang terus  menurun.  Tahun 1980 an  sebagai pengekspor dan saat ini kapasitas produksi dalam negeri  sisa 50 persen dari kebutuhan. Meskipun tidak 100 persen,  kenaikan harga minyak global tetap memiliki sisi positif.

Oleh karena itu, kenikan harga saat ini hendaknya menjadi peluang peningkatan kapasitas produksi. Ketika harga minyak global naik, maka nilai jual minyak dalam negeri  juga ikut meningkat. Kondisi itu dapat menjadi sumber  pendapatan bagi BUMN energi maupun pemerintah. 

Artinya kenaikan harga minyak domestik yang dipicu oleh kenaikan harga global juga ada berkahnya. Karena, beban subsidi yang muncul akibat selisih harga impor tidak sepenuhnya harus ditanggung APBN.  Kenaikan itu sejatinya  dikompensasi oleh peningkatan penerimaan dari produksi minyak nasional. 

Dalam posisi saat ini pemerintah sebenarnya tidak menanggung beban sebesar yang dibayangkan banyak pihak. Konsumen BBM non-subsidi menanggung kenaikan harga sesuai mekanisme pasar, sementara pendapatan dari produksi minyak dalam negeri ikut meningkat. 

Kombinasi dua faktor itu membuat tekanan terhadap APBN lebih terkendali. Berbeda jika semua jenis BBM adalah bersubsidi. Karena itu solusi jangka menengah yang paling tepat atas kenaikan hanya minyak global adalah meningkatkan produksi minyak dalam negeri. 

Melalui penguatan produktivitas kilang nasional. Jika harus terus mengimpor minyak maka, APBN akan terus terbebani. Selain itu, kebutuhan dolar AS untuk impor juga tidak bisa dihindarkan. Semakin besar permintaan dolar, semakin kuat mata uang tersebut dan semakin tertekan nilai tukar rupiah. 

Apabila produksi domestik bisa ditingkatkan, maka impor akan dikurangi, devisa dihemat, pasokan energi terjaga, harga BBM stabil  serta perkuat nilai tukar rupiah. Strategi berikutnya untuk perkuat ketahanan nasional adalah percepat transformasi energi dari fosil ke non-fosil.

Kendaraan berbasis BBM menuju kendaraan listrik. Transformasi itu tidak hanya ciptakan stabilitas ekonomi. Akan tetapi mampu kurangi ketergantungan impor BBM, perkuat neraca perdagangan dan nilai tukar.  Bahkan perkuat sistem energi nasional yang lebih berkelanjutan. Merdeka!!!!

(*)

Sumber: Tribun Kaltara
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved