Opini
Kebocoran Ekonomi dan Kedaulatan Rupiah di Perbatasan
Untuk mendeteksi kebocoran ekonomi bisa dengan pendekatan faktual dan basis data. Secara faktual bisa kita lihat apakah barang yang beredar.
Oleh: Dr. Margiyono, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan
TRIBUNKALTARA.COM - Lain ladang lain belalang. Beda daerah beda juga masalahnya. Perbedaan itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Bisa aspek historis, geografis, sosiologis, sumberdaya atau kebijakan.
Secara historis Kalimantan adalah wilayah yang kaya sumberdaya tambang.
Dari 5 provinsi yang ada tiga provinsi berbatasan langsung dengan Serawak dan sabah Malaysia yaitu Kalbar, Kaltim dan Kaltara.
Kedekatan geografis itu lahirkan hubungan sosial dan ekonomi yang juga erat. Oleh karena alasan keterbatasan, banyak sumberdaya Kalimantan di transfer ke Jawa dan Malaysia.
Konsekuensi perdagangan banyak produk hasil pabrikasi dari Jawa dan beberapa produk Malaysia dikirim ke Kalimantan.
Artinya bahwa, Kalimantan baik secara domestik atau hubungan luar negeri mengalami kebocoran ganda sumberdaya.
Baca juga: Rupiah Menguat, Lepas Dollarmu Sekarang!
Isu ini penting kita bahas oleh karena beberapa alasan;
(1). Hal itu dianggab biasa sehingga kurang menjadi perhatian kandidat pemimpin yang saat ini sedang berkompetisi.
(2) Dampak itu mengakibatkan kerugian ekonomi dan sosial.(3) Intrusi ringgit ganggu kedaulatan rupiah.
APA ITU KEBOCORAN EKONOMI?
Kebocoran ekonomi beda jika dibandingkan dengan kebocoran anggaran. Ia bukan masalah hukum.! Apalagi pidana. Sama sekali bukan!.
Kebocoran ekonomi adalah fenomena ekonomi yang muncul oleh karena mekanisme permintaan dan penawaran. Atau kekuatan pasar.
Kekuatan mekanisme itu melahirkan kesepakatan harga dan jumlah barang. Atas kesepakatan itu melahirkan prinsip “penjatahan”. Konsekuensi logisnya yang tidak sepakat tersingkir.
Dalam kaitan mekanisme pasar antara satu wilayah dengan wilayah yang lain juga terdapat aktifitas permintaan dan penawaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltara/foto/bank/originals/Margiyono-baru.jpg)