Rabu, 22 April 2026

Opini

Kebocoran Ekonomi dan Kedaulatan Rupiah di Perbatasan

Untuk mendeteksi kebocoran ekonomi bisa dengan pendekatan faktual dan basis data. Secara faktual bisa kita lihat apakah barang yang beredar.

Editor: Sumarsono
IST
Dr. Margiyono, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan 

Sesuai publikasi BPS Kaltara porsi pertanian mendekati 15 persen, lalu pertambangan lebih 25 persen. Artinya sektor primer Kaltara mendekati 40 persen.

Hasil output itu potensial menjadi input sektor sekunder, yaitu  industri pengolahan. Namun faktanya industri Kaltara terhadap PDRB  kurang dari 10 persen.   

Di pihak lain sektor perdagangan yang masuk kategori sektor tersier, porsinya terhadap PDRB lebih hampir 15 persen.

Fenomena lompatan dari primer langsung  tersier tanpa melawati sekunder Itu artinya terjadi kebocoran barang input, yang dihasilkan oleh pertanian atau pertambangan.

Tingginya kontribusi pertanian dan pertambangan Kaltara  mengalir ke daerah lain.  

Dampak dari itu nilai tambahnya lebih banyak dinikamti daerah lain. Karena itu benefit ekonomi yang diperoleh Kaltara kecil.

Baca juga: BI Kaltara Lepas Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2023, Ungkap Tantangan Peredaran Rupiah di Daerah 3T

KEBOCORAN INTERNASIONAL & KEDAULATAN RUPIAH

Sebagai wilayah perbatasan yang dihadapkan pada banyak keterbatasan, Kaltara menghadapi kebocoran input. Baik secara domestik maupun internasional.

 Kebocoran domestik hanya merugikan secara ekonomi.

Namun kebocoran internasional mengakibatkan intrusi mata uang asing.

Oleh karena input itu di jual ke Malaysia maka ringgit menjadi mata uang yang juga dipakai sebagian penduduk perbatasan.

Akibat dikuasainya ringgit maka tak pelak yang dibeli juga produk Malaysia.

 Beberapa produk makanan, minuman dan bahan bangunan juga mengalir dari Malaysia menjadi tumpuan sebagian masyarakat perbatasan.

Bahkan untuk daerah yang terisolir porsi barang Malaysia bisa mencapai lebih dari 60 persen.

 Itu adalah keniscayaan. Mereka hanya bisa hidup dengan model transaksi seperti itu. Realitas itu dipicu oleh akses ke pusat kota di Kaltara sangat terbatas.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved